Langsung ke konten utama

UPRAK BIN Cerita Inspiratif


Kartu Waffle Coklat


      Hai, aku Kinan dan aku tidak bisa bahasa Inggris. Menurut Mrs Sovian, aku sebenarnya berbakat dalam ini, asal aku mau berusaha. Tetapi aku sudah berusaha berkali-kali bahkan sejak aku masih SD. Nyatanya kemampuan Bahasa Inggrisku tidak lebih dari “Hello, my name is Kinan, What’s your name?” 
     “Kinan,” kata Mrs Sovian, suatu hari dikelas, “salah satu cara supaya kamu dapat dengan cepat mengusai bahasa Inggris yaitu, dengan mencoba mempraktikkannya. Practice makes perfect. Latihan dapat membuat pandai. Nah, saya yakin kamu pasti bisa. Lakukanlah.” 
      Tetapi, aku sudah berlatih terus sampai aku terbawa mimpi. Setiap bertemu Awan, temanku yang jago bahasa Inggris dan bergabung dalam Klub Pecinta Bahasa Asing di sekolah kami, aku selalu berupaya bicara bahasa itu. “Hello, my name is Kinan, What’s your name?” tanyaku selalu dan Awan biasanya menjawab, “Kinan kamu sudah tau namaku, dan akupun tau namamu bahkan nama panjangmu! Mengapa kamu menanyakan hal yang sama berulang kali? Bukan begitu caranya menghafal bahasa Inggris.”
      Lalu gimana? 
     “Lihat kamus. Coba cari kata-kata baru, dan masukkan dalam pembicaraan!” 
      Jadi aku melihat kamus dan menemukan kata “enlightmen”, artinya pencerahan. Maka aku mencoba mulai berlatih. Kali ini lawan bicaraku adalah Uline, teman sebangkuku. “Uline,” panggilku, “my name is Kinan, dan diluar… mmm outside is enlightmen.” Uline memandangku aneh dari rambut sampai kaki. “Kamu sakit, Kinan?” tanyanya, aku menggeleng. “Aku cuma berlatih bahasa Inggrisku.”        “Apa yang kamu katakana barusan?” tanyanya lagi. “Mmm…” aku berpikir apa yang kukatakan ya? Ohya, “enlightmen.” 
      “Outside is enlightme, ya.” kataku. “Kinan!” seru Uline. Aku terkejut, “kalau kamu ingin bilang cuaca diluar cerah sekali, maka kamu semestinya bilang 'it`s a very nice day'. Tetapi, diluar sama sekali nggak cerah. Berawan dan sepertinya akan turun hujan, jadi sebaiknya kamu bilang 'it`s cloudy outside'. Enlightmen adalah sebuah kata benda dan tidak ditunjukan untuk cuaca, kamu paham?” Aku mengerutkan dahi. Semestinya aku tahu ini. Aku memang tidak berbakat bahasa Inggris. Aku malu, mengapa lebih memilih kata ‘enlightmen’ dari kamus? 
      Hari mulai berganti dan aku menemui Kak Dinar. Dia anak murid kelas XII. Dia sangat pintar bahasa Inggris dan mantan ketua Klub Pecinta Bahasa Asing (PBA). Yang lebih penting lagi, dia orang yang sangat baik dan ramah. 
      “Ada apa? Wajahmu terlihat sedih.” tanyanya suatu siang. Kami berdua duduk berhadapan di ruang Klub PBA. Selain kami, ada empat orang lagi disitu. Semuanya anggota PBA dan mereka saling bicara dalam bahasa Inggris. Ada satu di antara mereka Namanya Tonny yang kutahu juga dia sangat jago bahasa Mandarin. Betapa bodohnya aku ini. Sementara teman-teman sekolahku bisa menguasai lebih dari satu bahasa asing, tapi aku tetap berhenti di dalam percakapan "what's your name?
      Kuceritakan masalahku, tapi tak kusinggung soal insiden `enlightment` itu. Kak Dinar mengangguk-angguk. "Tak semua bahasa harus kita mengerti," katanya. Bijak sekali. Aku mulai merasa terhibur, "semua orang memiliki kepandaiannya masing-masing. Ada hal-hal hebat yang ada padamu, yang aku tidak mampu menirunya, begitu pula sebaliknya." Perasaanku mulai lebih baik. 
      "Semua orang pasti berbakat dalam bidang bahasa, buktinya, kita semua bisa bicara dalam bahasa ibu kita sejak usia dua tahun, malah ada yang lebih muda dari itu.” Kak Dinar benar. Kata ibuku, aku mulai bicara pada usia 18 bulan. Kata-kata pertamaku setelah 'ibu' dan 'ayah' adalah 'minum', 'kue' dan 'TV'. Ya, aku memang suka nonton TV, tapi tidak semua acara. 
      "Satu-satunya hal yang membuat kamu tidak pandai dalam bahasa Inggris adalah perasaanmu. Kamu merasa tidak berbakat di bidang ini. Itu lucu. Bakat tidak terkait perasaan. Bakat adalah kemampuan alamiah yang ada pada diri seseorang. Nah, karena setiap orang bisa bicara dalam sebuah bahasa, maka tentu saja setiap orang punya bakat dalam bahasa lainnya." 
      Kak Dinar sangat mengerti perasaanku. Jika aku bisa berbahasa Indonesia, maka tidak tertutup kemungkinan aku bisa berbahasa Inggris. "Sekarang aku akan memberimu beberapa kartu kosong," Kak Dinar bangkit dan menuju lemari besar di pinggir dinding, dekat jendela kaca. la mengeluarkan sesuatu dari dalam. Sebuah kotak, "Nah," ia kembali ke tempat duduknya semula, dikeluarkannya isi kotak itu. Kartu-kartu kosong yang dibuat dari kertas sampul yang tebal. Warnanya macam-macam. Kak Dinar memberi kan sepuluh kartu padaku. 
      "Ada sepuluh kartu untuk sepuluh hari," katanya, “apapun kalimat yang ingin kau ucapkan dalam bahasa Inggris, tulis di situ, lalu coba terjemahkan dalam bahasa Inggris dengan bantuan kamus. Satu hari satu kartu." Aku memandangnya dengan ragu. Agak tak yakin. "Hati-hati dengan perasaanmu," kata Kak Dinar. "Kesuksesan berawal dari keyakinan." Aku mengangguk. Sedikit tak yakin, tapi aku akan mencoba. 
      Pada hari pertama, aku menulis kalimat, 'aku tidak ingin mengerjakan PR', di kartu itu. Bukan berarti aku tidak ingin mengerjakan semua PR-ku, itu cuma kalimat pertama yang terpikir olehku. Sesuai petunjuk kamus, aku menulis terjemahannya dalam bahasa Inggris, di bawah kalimat itu. 'I don't want doing my homework.' Kuulang-ulang kalimat itu, bahkan hingga kepelajaran IPA. "Kinan, kumpulkan PR-mu," kata Pak Wanto. 
      "I don't want doing my homework!" balasku. Cepat kututup mulut. Apa yang sudah kukatakan barusan. Pak Wanto menaikkan alisnya. Teman-temanku tertawa. "Maaf, Pak, saya sedang menghafal kalimat dalam bahasa Inggris," kataku. Kubawa PR-ku kepadanya. "Apakah Mrs Sovian menyuruhmu menghafal kalimat itu?" tanya Pak Wanto. "Tidak, Pak. Saya hanya sedang berlatih." balasku.
      "Itu bagus," kata Pak Wanto, "tapi saya tidak ingin mendengar kamu mengucapkan kalimat itu lagi." Kata-kata Pak Wanto itu keren. Jadi, kucatat di kartu kedua. 'Saya tidak ingin mendengar kamu mengucapkan kalimat itu lagi. Menurut kamus, terjemahannya yaitu: I don't want to hear you telling those words again. Ini jadi kalimatku di hari kedua. 
      Pada hari ketiga, aku mendapat satu kalimat keren dari Pak Andre, guru olahraga kami. "Cepat! Satu-satunya alasan orang untuk menang adalah karena mereka tidak ingin kalah!" Terjemahannya: 'One of the reason people want to win is because they don't want to lose.' 
      Aku merasa lebih bersemangat. Kemana-mana aku menenteng kamus dan mendengar percakapan orang orang. Di kantin sekolah, seseorang berseru. 
     "Mana nasi gorengnya? Aku sudah nunggu sampai kering nih!" 
     'Where is the fried rice? I wait untill i dry.' 
Lalu, di koridor sekolah aku mendengar petugas ke bersihan berteriak.
     "Awas! Jangan lewat sana! Lantainya masih basah!"
     'Caution! Do not go there! The floor is still wet!
Dan, saat upacara bendera hari senin kepala sekolah berpesan. 
     "Masa depanmu ditentukan perjuanganmu hari ini." 
     'Your future is depend on your struggle today.’ 
Aku juga menerjemahkan satu kalimat dari puisi yang kubaca di sebuah buku 
     “Cintaku tersimpan di kerat bilah.” 
     'My love is save in a piece of bamboo.
Dan, dari merek baju ibuku aku mendapat sebuah kalimat, Hanya dibuat di Singapore. "Only made in Singapore.
Di hari ke sepuluh aku mendapat sebuah kalimat lagi. Kali ini dari guru menggambar. 
     "Warnai seluruh hutan, lalu hapus sedikit untuk menciptakan kesan cahaya." 
     'Colour all forest than erase little to create light.' 
Kemudian, aku pergi menemui Kak Dinar lagi. Kak Dinar membaca kartu-kartu yang kutulis. "You did it well," katanya sambil tersenyum. Aku tahu maksudnya. "Kamu pantas mendapat hadiah," kata Kak Dinar. la mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Waffle dengan coklat diatasnya! 
      "Kakak!" seruku senang. "Hadiah kecil untuk Kinan yang berbakat dan tak kenal menyerah," katanya. Dadaku seakan menggelembung mendengar pujiannya. Belum pernah orang memujiku apalagi memberi hadiah untuk usahaku. Kuterima wafflenya. "Teruslah menulis di kartu. Suatu saat nanti nilai TOEFL-mu akan lebih tinggi dari nilai siapapun yang kamu kenal di sekolah ini. Termasuk dari aku."          Aku sangat terharu mendengar kata-katanya. Kalau tak kutahan, air mataku pasti sudah jatuh di pipi. Kusimpan waffle yang ia beri dalam tas. Aku berjanji akan terus menulis kartu. Dan kartu kesebelas yang akan ku tulis besok, yakni: "I love Kak Dinar. She is amazing. She is the best." Akan kuselipkan diam-diam ke dalam tasnya, bersama gambar waffle coklat.

Komentar